Ketika Semuanya Hilang –Bersamaan (Sebuah Resensi Novel “Rindu” karya Tere Liye)

“Ambo Uleng berdiri di dek kapal paling depan. Tatapannya kosong, ia memikirkan semua yang telah terjadi padanya. Meskipun ia coba berlari sekencang mungkin, toh cobaan itu tetap mengikuti. Hingga akhirnya ia sadar, bahwa ada banyak hikmah dari setiap cobaan yang dialaminya.”

Sukurlah, hari itu saya menyuruh mahasiswa untuk membelikan sebuah novel “Rindu” karya Tere Liye. Hampir setahun lebih novel ini menghiasi rak buku. Tahun itu, novel ini merupakan salah satu novel bestseller. Namun entah mengapa, saya belum sempat (mau) untuk membacanya sampai habis. Pernah sekali saya membacanya hingga beberapa bab. Yah, mungkin seperdelapan dari novel ini. Bosan dan tak menarik, setidaknya itulah kesan awal saat membaca novel ini. Jujur, satu hal yang membuat saya malas membaca novel ini karena saya kurang senang dengan tokoh utamanya. Menurut saya, Tere Liye terlalu membuat Ambo Uleng yang merupakan tokoh utama menjadi lelaki yang sangat lemah. Saya benci lelaki lemah. Lelaki yang memilih untuk lari-berlari-jauh-menjauh-dan pergi untuk menghindari masalah.

Tak ada feel. Setidaknya itulah yang kekurangan saya ketika membaca novel ini. Saya tidak merasakan menjadi tokoh utama bahkan tokoh lain dalam novel ini. Saat itu pula, saya sadar bahwa untuk membaca sebuah novel, harus ada feel. Semacam perasaan ‘memiliki’ dan ‘menjadi’ pemeran dalam novel yang dibaca. Ketika dua perasaan itu telah ada, percayalah bahwa membaca novel ataupun karya fiksi lainnya merupakan sesuatu yang menyenangkan.

“Tanpa gambar dan hanya dipenuhi huruf”

Setidaknya asumsi itu yang muncul saat membaca novel. Suatu saat, ketika kita menemukan sebuah novel yang mampu menjadi representasi atau gambaran diri, percayalah kalau novel itu akan menjadi penghilang luka dan duka. Suatu ketika bahkan seorang teman yang jarang membaca novel, tiba-tiba mengirimkan pesan bahwa ia telah menyelesaikan sebuah novel. Sambil berkelakar ia berkata bahwa “ini novel pertama yang mampu kubaca sampai habis, meskipun isinya cuma penuh dengan huruf.” Tak pernah terpikirkan kalau ia sampai habis membaca novel itu. Mungkin, pada saat itu, ia menemukan sebuah novel yang dapat menggambarkan dirinya. Novel yang dibaca habis oleh teman itu adalah novel Rindu karya Tere Liye.

Rasa penasaran pun muncul. Saya bahkan menemukan beberapa orang yang telah membaca novel ini. Jawaban mereka semua hampir sama, “Novel ini bagus”. Tapi kenapa saya tidak menemukan sisi ‘bagus’ itu. Makin lama, novel ini menjadi salah satu bestseller yang setia di rak buku. Sesekali saya bahkan meminjamkan kepada teman. Menyuruh mereka membaca agar mereka menemukan sisi ‘bagus’ dari novel ini. Sialnya, mereka pun menemukannya. Saya pun makin penasaran.

Hingga suatu waktu, saya akhirnya menemukan juga sisi bagus yang mereka katakan. Sisi yang selama ini saya cari dan baru menemukannya. Kesan awal saya bahwa novel ini menunjukkan tentang sisi lelaki yang lemah ternyata salah. Saya yang keliru dan tidak menemukan sisi tersebut karena saya tidak membacanya menggunakan feel. Saya tidak merasakan dan menjadi Ambo Uleng dalam novel ini.

Sampai suatu keadaan pun mengantarkan dan membuat saya menjadi persis seperti Ambo Uleng. Terpuruk pada sesuatu hal dan berpikir untuk pergi sejauh mungkin. Menghindar dan lari dari setiap masalah yang menghampiri. Saya pun menjadi laki-laki lemah persis seperti kesan awal saya tentang novel ini. Kesan yang membuat saya benci pada novel ini yang ternyata pada akhirnya saya pun merasakan hal yang dialami Ambo Uleng. Namun, dari novel ini, saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah ‘tentang rencana Tuhan’. Sehebat apapun rencana yang manusia buat: Plan A, Plan B, Plan C, hingga Plan D, toh tentu plan/skenario yang dibuat Tuhan lah yang terbaik. Keterpurukan yang dialami hari ini, bisa jadi sebuah ujian dari skenario Tuhan agar kita mampu menikmati manisnya rencanaNya. Terima kasih Tere Liye, sudah membuat novel yang menjadi penghilang duka. Menjadi penyemangat dan pengingat bahwa seberat apapun cobaan, pasti ada akhirnya. Toh jika kita mampu melaluinya, Tuhan telah menjanjikan sesuatu yang nikmat setelah cobaan itu.

 

Bangkit setelah terpuruk.

Saumata Indah, 12 Oktober 2017

Alfian Tuflih

Iklan

Paradoks

Kemarin, kupikir semuanya telah berakhir

Bertahan pada dingin dan getir

Melihat sisa-sisa rindu yang mengalir

Kau datang memantiknya kembali

Menyalakan cahaya yang hampir padam

Memulai kembali cerita yang hampir usai

Pada dinginnya hutan pinus

Kurebahkan kepalaku pada bahumu

Kuharap kau sadar

Betapa beratnya beban dalam kepalaku

Kisah ternyata berlanjut

Harapan sedikit demi sedikit terajut

Senyummu menjadi penghilang luka

Dalam hari-hari penuh duka

Aku tertipu dengan kisah Paradoks,

ketika kau datang dengan sebuah teks

Mengutarakan rasa untuk berjarak

Dan akupun kalah dengan telak

 

(S)eseorang (Y)ang (D)icinta

Semoga, ini terakhir kalinya kudengar kau menyanyikan lagu sendu itu. Ini terakhir kalinya kudengar kau bernyanyi yang mungkin ditemani air mata. Terakhir kalinya kudengar kau menyanyikan lagu dengan sesak di dada. Memang, aku tak melihat mu langsung ketika bernyanyi. Namun, alunan suara mu saat menyanyikan lagu perpisahan itu sudah cukup meyakinkan ku tentang ketulusan dan perpisahan yang tak kau inginkan.

Tiap kata yang terangkai,

Tiap bait yang tersusun,

Diantara melodi sendu itu: Kutemukan kau dalam kesedihan.

Ah, tak pernah kubayangkan kalau kau seikhlas ini dalam melepaskan. Waktu pun akhirnya berperan, membantuku menemukan sebuah titik terang. Tentang siapa dirimu, tentang masa lalumu, dan tentang kisah pilumu. Kupikir, Tuhan hanya memberikan luka itu padaku. Ternyata, Tuhan pun memberikan luka yang sama padamu. Semoga aku salah. Kita adalah dua orang yang pandai menyembunyikan luka. Tertawa sekeras mungkin demi menutupi tangis yang terus ini meronta keluar. Tersenyum seindah mungkin demi menutupi luka yang hingga kini belum sembuh.

Kini, kita dipertemukan dalam satu tempat dan waktu yang mungkin kau dan aku bahkan tak pernah sangka. Kuharap, semoga pertemuan ini adalah cara Tuhan agar kita saling mengobati, bukan saling melukai. Tertawa bersama. Bersenda gurau  bersama agar luka masa lalu itu sedikit- demi sedikit menghilang.

Hari ini, kita kembali bercerita tentang sebuah kemungkinan berpisah. Tentu ini sangat berat. Tapi apalah daya, ada cita-cita yang harus diperjuangkan sendiri-sendiri. Hingga pada akhirnya, ketika telah selesai memperjuangkan cita-cita tersebut, kita akan dipertemukan kembali untuk berjuang bersama dalam cinta.

Semoga. Tak ada dejavu. Tak ada lagi perpisahan yang tak kembali. Tak ada lagi kata “Pergi” yang lupa dengan istilah “Pulang”.

Pada Tuhan, marilah kita sama-sama berdoa. Semoga kelak, pun kita akan berpisah, itu hanya sementara waktu. Sebelum masing-masing dari kita kembali untuk berjuang bersama.

Dari: Lelaki yang percaya bahwa alasan Tuhan menciptakan jarak, agar kita selalu percaya bahwa rindu itu ada.

Saumata Indah, 20 September 2017

Alfian Tuflih

Dua Sahabat

Untuk dua lak-laki hebat yang senasib. Percayalah, kelak ketika seseorang balita telah dapat memanggilku dengan sebutan “Bapak” atau “Ayah”, akan kutunjukkan foto ini seraya berkata:

opes

“Inilah sahabat yang mengenalkan bapak pada dunia baru.”

Laki-laki pertama bernama Hasrul Pratama. Dulu, semasa kuliah kami memanggilnya Capes. Perawakannya tinggi dan kurang gemuk. Ahli bermain gitar dan mantan anak band semasa SMA. Kini ia lebih sering aktif di dunia seni dengan mendirikan sanggar seni. Laki-laki selanjutnya bernama Mujiarto. Lebih akrab disapa dengan sebutan Oji. Sesuatu yang selalu terpikirkan dalam kepalaku ketika melihat Oji adalah:

“Tidak ada alasan bagi perempuan untuk tidak mencintainya.”

Bersama mereka berdua, serasa membuka pintu-pintu yang dulu tak pernah ingin kubuka, bahkan tak terlihat. Dunia baru yang kutemukan ketika kuliah. Banyak hal yang kupelajari dari mereka berdua. Salah satunya adalah: Cinta.

Berbicara mengenai cinta, aku, Bung, dan Baho, dapat dikatakan murid dari dua orang hebat ini. Banyak hal mengenai perjuangan, pengorbanan, suka, duka, dan air mata telah kupelajari dari mereka. Medio 2009-2014, sepertinya tiada hari yang kami lalui tanpa kajian tentang cinta.

Benar.

Cinta pernah memporakporandakan kami

Cinta pernah membuat kami tertawa.

Cinta pernah melakukan segalanya.

Hingga akhirnya…

Cinta mengajarkan kami pada sebuah arti dari ‘keihklasan’

Hampir satahun tak pernah bertemu dan bersua, hingga sebuah status FB dari Oji seraya menjadi pembuka kenangan “Perjuangan”:

Dalam perjalanan hidupku. Telah ku dapati dua kesalahan Tuhan. Entah itu Tuhanku, pun Tuhanmu. Pertama saat dia menyandingkan mu dengan lelaki yang bukan aku. Kedua saat temanku merasakan hal yang sama denganku. Namun dibalik setiap kejadian selalu ada rencana dibaliknya. Jika tuhan berencana mematahkan hati yang cukup kuat ini, entah itu Tuhanku, pun Tuhanmu. Kali ini dia berhasil. Karena bagaimanapun “katanya” Tuhan tak pernah salah.

Ah kawan, kalian selalu menjadi penawar sedih. Sempat kukira kalau kesedihan itu hanya aku yang masih memeliharanya. Ternyata tidak. Mungkin hari itu, sebelum kita menetukan jalan,hidup masing-masing, setiap dari kita tanpa sadar telah membawa benih-benih sedih.

Kini, benih itu telah besar dan berbuah. “keihklasan”, kuberi nama pada setiap buah tersebut. Jika kalian sempat menonton berita, kalian mungkin tahu kalau Raisa pun telah menikah. Jujur, saya kurang tertarik pada kisah bahagianya. Saya malah lebih tertarik dengan perasaan Keenan Pierce.

Membayangkan kisah Keenan, mungkin tak ada salahnya jika kisah kalian kusamakan. Bukankah ini sebuah kebanggan ketika kisah cinta kalian setara dengan Keenan Pierce?

 

Alfian Tuflih

Saumata Indah, 10 September 2017

Namanya : Pempeng

Ada banyak orang hebat di dunia ini. Mereka tersebar dimana-mana. Jika mengamati track record nya, mereka tentu didaulat menjadi orang hebat karena berbagai hal. Ada yang kerena prestasinya, karena menjadi pemimpin suatu negara atau kelompok, dan lain-lain.

Tulisan kali ini tentang salah satu orang yang bisa dikatakan hebat menurutku. Ya, tentulah tak dapat disamakan dengan para orang-orang hebat yang sekarang ada dalam pikiran teman-teman. Ia hanyalah bocah yang tengan beranjak menuju remaja dengan segala sikapnya yang unik. Bocah yang akan menjadi subjek dalam tulisan ini adalah Pempeng.

Sekilas mendengar namanya mungkin agak terkesan aneh. Atau mungkin beberapa dari teman-teman yang membaca tulisan ini akan tertawa cekikikan.

“Pempeng?” Ah tidak mungkin menuliskan tentang dia.

“Apa yang hebat dari dia”

“Pempeng yang itu toh?”

Pempeng…Pempeng…Pempeng

Jika dilanjutkan, akan banyak pertanyaan yang muncul. Bahkan bisa jadi jumlah pertanyaannya lebih banyak dari isi tulisan ini.

Pempeng adalah salah satu anak yang tinggal di kompleksku. Saya kurang tahu betul mengenai seluk beluk anak ini. Satu hal yang selalu saya ingat, anak ini selalu berkeliling kompleks dengan sepedanya. Berbeda dengan anak lainnya, Pempeng dapat digolongkan sebagai anak yang berkebutuhan khusus menurutku. Ya itu hanya menurutku. Entahlah ia masuk kedalam golongan berkebutuhan khusus apa.

Lanjut cerita.

Akhir-akhir ini saya mulai jarang menemukannya naik sepeda. Dulu, saat siang bolong, saya biasa melihatnya lewat di depan rumah. Tak jarang saya menyapanya dan ia tersenyum. Lama tak terlihat dengan sepedanya, ternyata kini Pempeng sudah punya tempat ‘main’ baru. Sekarang Pempeng lebih sering ke Masjid. Saya sering bertemu dengannya pada setiap waktu salat fardhu.

Awalanya, ia ke mesjid dengan pakaian yang biasa digunakan naik sepeda. Namun lama-kelamaan, ia mulai menggunakan baju koko. Ada banyak hal-hal unik yang dilakukannya di mesjid. Selain ikut solat berjamaah, terkadang Pempeng mengikuti makmum yang telat meskipun ia sebenarnya bukan masbuk.

Selain itu, Pempeng juga biasa tiba-tiba berdiri dan ikut solat sunnah disamping jamaah yang sementara solat. Padahal, saya yakin ia tak tahu apa yang dilakukannya. Tapi saya iri karena ia melakukan hal-hal yang saya sepelekan. Hal yang paling lucu, Pempeng malah sempat ikut solat duduk bersama salah seorang jamaah yang tidak mampu lagi solat berdiri. Padahal, Pempeng mampu untuk solat berdiri.

Tertawa, mungkin teman-teman yang sempat membaca tulisan ini akan tertawa jika memikirkan tingkah lucu Pempeng. Tapi, ada satu hal yang teman-teman lupakan.

Dengan segala kekurangannya, dengan segala ketidakpahamannya, setidaknya Pempeng masih memiliki hati yang terpanggil untuk solat.

Ia mungkin tidak paham agama…

Ia mungkin tidak mengerti apa yang dilakukannya…

Ia memang memiliki kekurangan…

Tapi…

Setidaknya Pempeng punya hati yang selalu terpanggil untuk melangkahkan kaki ke mesjid saat azan berkumandang.

Lantas, bagaimana dengan kita? Adakah dengan segala kelebihan ini, masih terpanggil ke mesjid saat azan berkumandang?

Tutup mata teman-teman sejenak dan tanyakan pada hati kecil teman-teman. Kita tahu jawabannya, tapi kita pura-pura lupa dan tak pernah merasa bersalah.

Sekian.

 

Saumata Indah, 25 Agustus 2017

Alfian Tuflih

 

SAMAR

Disini aku berdoa, kuharap kau disana mengaminkan.

Disini aku berjuang, kuharap kau disana menunggu dengan sabar.

Disini menuai cemas, kuharap kau disana siap memanen rindu.

Semuanya berawal dari hari itu. Dari peristiwa itu. Dari waktu yang tak pernah terpikirkan kalau kita akan bertemu. Memikirkan kembali hari itu dan berharap terulang kembali, rasanya seperti sebuah mimpi yang terwujud. Seperti doa yang diijabah oleh Tuhan tepat ketika diucapkan.

Hari ini kita tak bertemu. Namun samar wajahmu masih terbayang. Sesekali, kulihat beberapa paras mereka serupa denganmu. Ah mungkinkah itu kau? Toh kalaupun itu kau, seharusnya kau memalingkan wajah. Berharap kau menjaga pendangan seperti saat sepersekian detik pertemuan kemarin.

Dan ternyata, tentu itu bukan dirimu. Khayalku telah membawa mata ini pada imajinasi tentang keberadaanmu. Kata mereka, cinta itu dari mata? Pendapat yang menurutku sangat tidak adil. Jika dari mata, bagaimana dengan mereka yang buta? Apakah mereka tak mungkin memiliki cinta?

Jujur, aku lebih suka dengan puisi sederhana Sapardi Djoko Damono. Pernyataan sederhana tentang cinta, namun sarat makna.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.”

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

 

Benar, cinta memang sederhana. Kitalah yang membuatnya menjadi rumit. Untuk perempuan sederhana sepertimu dengan segala kemisteriusannya, bukankan saling mendokan dan mengingat jauh lebih baik. Semoga kau masih ingat dengan percapakan singkat itu. Jadi, biarlah aku mencintaimu dengan sederhana, sesederhana tulisan ini sebagai pelepas kerinduan setelah hujan sempat membasahi jalan depan rumahku.

 

Saumata Indah, 31 Mei 2017, Sepulang Meeting bersama Kak Bakrie dan Baho.

Jarak-(kita)-Rindu

Kenapa Tuhan menciptakan jarak? Jawabannya sederhana, agar rindu tetap terjaga. Tanpa jarak, apakah rindu masih ada? Tanpa kabar, apakah kita masih akan saling mengingat? Dan tanpa bertemu, apakah kita masih saling memiliki?

Akhir-akhir ini, pertanyaan itu sering muncul. Jarak dan Rindu. Kembali ku ulang kalimat itu beserta beberapa pertanyaan yang mengikutinya.

Kita, iya kita. Semenjak perbincangan malam itu, telah kusingkat kau dan aku menjadi kita. Naif memang. Sebagai seorang lelaki, aku tak meminta persetujuanmu atas kesepakatan kata ‘kita’. Benar, terlalu egois. Tapi bukankah untuk mencintaimu dibutuhkan sebuah keegoisan. Kau dengan segala kemisteriusan itu memaksaku untuk menjadi egois dalam hubungan ini. Menjadi pembicara utama dalam setiap percakapan. Serta, menjadi pendiam saat bertemu.

Ah, kau harusnya tahu, betapa rindu dan rasa ini menyiksa. Terkadang, aku berpikir untuk mengambil batu, menulis namamu, kemudian melemparkan tepat di wajahmu, agar sekali-sekali kau tahu betapa sakitnya mencintaimu.

Sakit…

Siksa…

Dan apalah nama dari perasaan itu.

Kini aku tak peduli. Semua telah kupasrahkan kepadaNya. Biarkan Dia sebagai dzat yang maha kuasa yang menentukan jalan cerita kita. Aku pernah mencoba membuat jalan cerita kita, tapi gagal. Kupasrahkan kau padaNya. Kuharap, Dia menerima semua doa yang dalamnya diam-diam kusebut namamu.

Aku mengingat kalimat Khrisna Pabhicara ‘Semenjak luka kunamakan doa, tak ada lagi yang perlu kutangisi’

Tentang kepastian yang pernah kutanyakan, biarlah itu menjadi urusanNya. Aku kini tak menuntutnya lagi. Bukankah kau pernah berkata bahwa kepastian memang hanya milikNya. Apalah kita ini yang hatinya mudah terbolak-balik.

Hari ini, kita bertemu meskipun hanya sepersekian detik. Kulihat kau sempat memalingkan muka. Kuharap itu adalah caramu menjaga pandangan. Kini, biarlah kau menjadi rahasiaku dengan Tuhan. Biarlah kutemukan kau dalam setiap salat istikharahku.

Hari ini kusadari bahwa ‘kita’ kini ada di antara jarak dan rindu.

 

Alfian Tuflih, 29 Mei 2017. Setelah kita sempat saling bertatap dalam waktu singkat.